jenis pemilihan sampah di jepang

Penanggulangan sampah selalu jadi masalah terbesar di Indonesia, dilansir dari Liputan6.com menurut Saka Dwi Hanggara Pelatih Pengelolaan Sampah di Perusahaan Pengelolaan Sampah Waste4Change, beliau menerangkan bahwa di Indonesia dalam satu hari menghasilkan sampah sebanyak  175.000 ton per harinya. Akan tetapi dari banyaknya sampah ini, hanya 7,5 persen saja yang mampu didaur ulang dan dijadikan kompos. Sisanya, sebanyak 10 persen sampah ditimbun, lima persen sampah dibakar, dan 8.5 persen tidak terkelola”.

Sampah juga menjadi masalah yang meresahkan. Salah satu negara yang memikirkan permasalahan sampah dengan serius adalah Jepang. Kemajuan industri di Jepang membuat kerusakan alam, ditambah lagi lahan yang sangat terbatas, membuat negara tersebut benar-benar harus memikirkan penanggulangan sampah. Pada awalnya sampah dibagi menjadi dua kategori umum, yaitu sampah umum dan sampah industri. Sampah umum adalah sampah dapur dan sampah besar yang dihasilkan oleh rumah tangga, dan sampah kertas yang dihasilkan oleh kantor-kantor. Sedangkan, sampah industri adalah sampah yang dihasilkan oleh pabrik seperti bara api, minyak, lumpur, dan lain-lain.

Dalam usaha mengurangi timbunan sampah, pada tahun 1976, kota Hiroshima memperkenalkan sebuah sistem untuk pertama kalinya di Jepang, yang dikenal dengan istilah “sorted waste collection”.  Sistem yang dimaksud adalah sistem yang melibatkan warga untuk memisahkan sampahnya masing-masing ke dalam lima kategori yaitu sampah yang dapat dibakar, sampah yang tidak dapat dibakar, sampah yang dapat didaur ulang, sampah berukuran besar, dan sampah berbahaya. Walaupun pada awalnya masyarakat mengalami kesulitan, namun secara bertahap sistem ini mulai dikuatkan, dan sejak saat itu sistem ini menyebar serta dikenal di seluruh Jepang sebagai ‘sistem pemisahan sampah ala Hiroshima’

Pengelompokan sampah di Jepang secara umum :

1. Moeru Gomi (燃えるゴミ)

Moeru Gomi

Sampah yang bisa dibakar terdiri dari sampah dapur seperti bahan atau bekas sisa makanan, lalu sampah-sampah kayu atau ranting pohon, daun, atau rumput serta sampah kertas yang tidak dapat didaur ulang seperti kertas tisu, kertas foto dan lain-lain. Selain itu, yang juga dimasukkan dalam kategori ini adalah kaus tangan, kembang api, sumpit, alat rumah tangga atau mainan-mainan dari kayu (setelah dipotong-potong kecil jika ukurannya besar), dan puntung rokok.

Adanya desentralisasi pengolahan sampah di jepang menjadikan aturan pemilahan dan pengolahan sampah berbeda-beda di setiap kota. Sampah sendiri harus dibersihkan terlebih dahulu dan dimasukan kedalam plastik yang sudah ditentukan dan dikumpulkan di tempat yang sudah ditentukan pula di dekat tempat tinggal warga untuk nantinya diambil oleh petugas sampah kota.

2. Moenai gomi (燃えないゴミ)

Moenai gomi

Sampah yang tidak bisa dibakar terdiri dari sampah, seperti besi, kaca, karet, plastik, baterai, kawat, styrofoam, dan keramik. Aturan pembuangannya adalah seminggu sekali dengan hari yang sudah ditentukan oleh pemerintah kota untuk setiap bulannya.

3. Shigen Gomi (資源ゴミ)

Shigen Gomi

Sampah daur ulang adalah sampah yang dapat dan akan didaur ulang secara langsung oleh berbagai perusahaan terkait. Barang-barang yang termasuk kategori sampah ini adalah pakaian, kertas-kertas bekas, botol-botol PET (polyethylene terephthalate), botol atau kaleng minuman soda yang terbuat dari alumunium dan kaleng makanan lainnya.

4. Ookina gomi (大きなゴミ)

Ookina gomi

Sampah besar Ōkina gomi adalah sampah-sampah yang berukuran besar. Secara umum ada standar ukuran, bentuk, dan jenis tersendiri yang telah ditetapkan oleh pemerintah kota. Umumnya adalah barang-barang elektronik yang besar seperti komputer, televisi, kulkas, mesin cuci, freezer, mesin air conditioner (AC), mesin jahit, mesin pemotong rumput, mesin pemanas air, kipas angin, alat-alat musik (piano, gitar, biola) dan lain sebagainya. Uniknya Barang-barang besar yang disebutkan di atas, kadang-kadang sebenarnya bukan dalam kondisi rusak tapi lebih karena sudah dianggap ketinggalan zaman. Banyak pula barang-barang yang sudah rusak dan dibuang tersebut sebenarnya masih dapat diperbaiki. Namun, karena umumnya biaya perbaikan sangat mahal, sehingga mereka lebih memilih membuangnya.

Hal itulah yang menjadi penyebab sampah besar khususnya elektronik ini cukup banyak jumlahnya. Cara membuang sampah jenis ini adalah dengan menghubungi kantor bagian pengumpulan sampah langsung yang telah dicantumkan sebelumnya dalam buku panduan pengelolaan sampah. Cara ini disebut dengan door-to-door collection. Pembuangan sampah jenis ini dikenai biaya sesuai dengan jenis barangnya.

Di Indonesia sendiri pemilahan sampah masih sangat terbatas pada sampah organik, sampah anorganik, dan sampah berbahaya. Hanya saja pemilahan sampah sendiri masih sangat kurang dalam penerapannya, karena pada dasarnya sampah dipilah di tempat penampungan sampah dan tidak melibatkan masyarakat dalam proses pemilahannya. Hal tersebut tentunya menjadi masalah yang serius jika semua sampah disatukan begitu saja dan dibuang begitu saja. Harapannya baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah menerapkan pemilahan sampah seperti di jepang dan memberi edukasi yang tepat pada warga.

(Tayori Japan)

2 Comments on Budaya Pemilihan Sampah di Jepang yang Patut ditiru di Indonesia

2 Replies to “Budaya Pemilihan Sampah di Jepang yang Patut ditiru di Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published.